Senin, 22 April 2013


MAKALAH
DINAMIKA STUDI ISLAM DI DUNIA

Dipresentasikan dalam Mata Kuliah
Pengantar Studi Islam
yang diampu oleh: M. Rikza Chamami,MSI


Adi Setyo Nugroho
NIM.123911022
Agus Santoso
NIM .123911026
Alfi Hidayah
NIM.123911030
Aprilia Ngabekti N
NIM.123911037
Azimatus Syarifah
NIM.123911039
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
TAHUN 2013
  

I.                  Pendahuluan

            Pada zaman awal kelahiran Islam, Nabi dan para sahabatnya menjadikan masjid sebagai tempat untuk mempelajari Islam, kemudian masjid ini berkembang menjadi pusat studi Islam. Mahmud Yunus yang di kutip oleh Atang Abdul Hakim dan Jaih Mubarok menjelaskan bahwa pusat-pusat studi islam klasik adalah di Makkah danMadinah (Hijaz), Basrah dan Kufah (Irak), Danaskus dan Palestina (Syam), dan Fistat (Mesir).
            Tetapi seiring berjalannya waktu Islam tidak hanya berkembang di daerah tersebut tetapi juga tumbuh di belahan dunia lainya seperti di dunia bagian Timur di daerah Benua Asia dan sekitarnya termasuk juga Indonesia serta dunia bagian Barat seperti Benua Amerika dan Eropa .
            Untuk lebih jelasnya marilah kita lihat makalah dan pemaparan pemakalah sebagai berikut
II.                RUMUSAN MASALAH
a.       Bagaimana perkembangan studi Islam di Barat?
b.      Bagaimana perkembangan studi Islam di Timur?
c.       Bagaimana perkembangan studi Islam di Indonesia?

III.             PEMBAHASAN
          A.    Studi Islam di Barat
a.      Kanada
Kajian keislaman di Kanada pertama kali diselenggarakan di McGiII University tokoh utamanya Wilfred Cantwell Smith. Gagasan utama dibukanya kajian ini adalah banyaknya konflik yang ditimbulkan oleh isu agama. Hal ini menggugah Smith untuk membuka pusat kajian agar para sarjana Barat tahu secara benar tentang islam dan sekaligus untuk mengurangi adanya kesalahpahaman di antara mereka.
Pusat kajian ini berkembang menjadi sebuah departemen yang menjadi bagian dari McGiII University. Bahkan, untuk lebih memperbanyak hasil-hasil penelitian tentang islam ini, departemen ini mengundang para peneliti, professor, atau guru-guru besar dari berbagai Development Of Islamic Studies In Canada. Dari Indonesia, Prof. Dr. Nurcholish Madjid (alm) dan Prof. A. Syafi’I Ma’arif pernah menjadi tenaga pengajar di departemen ini.
Di kanada, studi islam bertujuan :
1.      Menekuni kajian budaya dan peradaban islam dari zaman Nabi Muhammad SAW hingga masa konteporer.
2.      Memahami ajaran islam dan masyarakat muslim diseluruh dunia.
3.      Mempelajari beberapa bahasa muslim[1].
b.      Amerika Serikat
Di Amerika, studi-studi islam pada umumnya memang menekankan pada studi sejarah islam, bahasa islam selain bahasa Arab, sastra dan ilmu-ilmu social, yang berada di pusat studi Timur Tengah atau Timur Dekat.
Di Chicago, kajian islam diselenggarakan di Chicago University. Secara organisatoris, studi islam berada di bawah Pusat Studi Timur Tengah, Jurusan Bahasa dan Kebudayaan Timur Dekat. Di lembaga ini, kajian islam lebih mengutamakan kajian tentang pemekiran islam, bahasa Arab, naskah-naskah klasik, dan bahasa-bahasa Islam non-Arab.
Di UCLA, studi islam dibagi menjadi beberapa komponen :
1.      Mengenai doktrin agama islam, termasuk sejarah pemikiran islam.
2.      Bahasa Arab, termasuk teks-teks klasik mengenai sejarah, hokum, dan lain-lain.
3.      Bahasa-bahasa non-Arab yang muslim, seperti Turki, Urdu, Persia, dan sebagainya, sebagai bahasa yang dianggap telah ikut melahirkan kebudayaan islam.
4.       Ilmu-ilmu social, sejarah, bahasa Arab, dan sosiologi. Selain itu, ada kewajiban menguasai secara pasif, satu atau dua bahasa eropa.[2] 
c.       Inggris
Di Inggris, studi islam digabungkan dalam School of Oriental and African Studies (Fakultas Studi Ketimuran dan Afrika) yang memiliki berbagai jurusan bahasa dan kebudayaan di Asia dan Afrika. Salah satu program studinya adalah program MA tentang masyarakat dan budaya islam yang dapat dilanjutkan ke jenjang doctor.
Dalam rangka berdakwah dan mengembangkan ajaran islam, serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang keyakinan seorang muslim, dua Universitas yang cukup terkenal di inggris membangun Pusat Penelitia Islam. Pembangunan Islamic Center ini di danai oleh seorang pebisnis asal Saudi, Harian The Independent melaporkan bahwa kedua universitas itu adalah University of Cambridge dan University of Edinburgh. Pangeran Kerajaan Saudi Arabi, Al Walad bin Talal, mendukung pembangunan Pusat Penelitian Islam ini di kedua universitas tersebut. Ia mengatakan kegembiraannya saat pembukaan dan penandatanganan di Istana Buckingham, Inggris.
Universitas Gambridge dan Universitas Edinburgh menerima bantuan sekitar 16 juta Pounsdterling. Kedua universitas tersebut memant memant memang memiliki beberapa pengalaman dalam hubungannya dengan islam, terutama dalam pendidikan islam. Hamper bertahun-tahun, Universitas Edinburgh selalu menawarkan para pelajar dari kalangan muslim.
Universitas tersebut adalah universitas pertama yang mengembangkan system pendidikan Islami dan Timur Tengah. Hamper 60 mahasiswa bergabung dan belajar di Fakultas Asia dan Pembelajaran timur Tengah setiap tahunnya. Fakultas ini memang fakultas khusus yang ada di Universitas Cambridge. Dana atau bantuan tersebut adalah bagian dari usaha-usaha pangeran Al Waled bin Talal. Upaya ini merupakan salah satu bentuk untuk mengembangkan islam. Pada 2 tahun sebelumnya ia menyumbangkan sekitar 40 juta dollar untuk membentuk program pembelajaran islam di universitas Harvard dan Georgetown, merika serikat. Universitas ini melakukan sebuah pengkajian tentang keajaiban berkaji dengan mengatakan bahwa haji adalah alat pemersatu umat islam.[3]
d.      Belanda
 satu ilmuwan di sana menyatakan bahwa studi islam di belanda sampai setelah perang dunia II masih merupakan refleksi dari akar anggapan bahwa islam bermusuhan dengan Kristen, dan pandangan islam sebagai agama tidak patut di anut. Belakangan, ada sifat yang lebih obyektif seperti yang tertulis dalam berbagai brosur, bahwa studi islam di belanda lebih menekankan pada kajian islam di Indonesia tertentu, tetapi kurang menekankan pada aspek sejarah islam itu sendiri.
Di Negara ini, kajian islam di lakukan di universitas laiden. Universitas ini merupakan perguruan tinggi yang sangat intens memperjuangkan kajian islam menjadi bagian dari lemabaga kajian universitas ini. Di universitas ini terdapat koleksi perpustakaan kajian islam yang sangat memadai. Bahkan, terdapat manuskrip-manuskrip tentang islam yang berasal dari beberapa Negara yang dari negeri asalnya, manuskrip ini tidak terurus, bahkan sudah hilang.
e.       Jerman
Di Jerman, studi islam difokuskan pada kajian-kajian tentang bahasa, budaya dan agama, yang lebih di kenal dengan Seminar Orientalis (Orientalisches Seminar). Sebagaimana studi ketimuran pada umumnya, studi islam berdiri sendiri terlepas dari teologi (termasuk misiologi) dan tidak terpengaruh terhadap polemic dan apologi. Sebagai sebuah disiplin ilmu, studi islam berada di bawah Fakultas Seni atau di bawah sub-bagiannya (jurusan-jurusan), misalnya, Studi Budaya (Kulturwissenschaft) sebagaimana yang ada di Swedia dan Belanda.
Tokoh yang berpengaruh dalam kajian islam pada generasi pertama di Jerman adalah Theodore Noldeke (1836-1930), Julius Wellhausen (1844-1918), dan Ignaz Goldziher (1850-1921), yang masing-masing dikenal karena penelitian mereka tentang Al-Quran, awal sejarah islam dan perkembangan internal agama dan budaya Islam. Pada generasi kedua, muncul tulisan-tulisan dari Helmut Ritter (1882-1971) mengenai teks-teks agama islam dan karya-karya Carl Brockelmann (1868-1956) mengenai sejarah teks-teks Arab. Ada juga beberapa nama, termasuk Hans Heinrich Schaeder (1896-1957) yang mampu mengkaji islam dalam kerangka yang lebih luas dari sejarah keagamaan orang-orang Timur Dekat dan sejarah dunia yang tidak lagi mengikuti pola kesarjanaan yang Eurosentris.[4]
f.       Australia
Studi islam di Australia dilakukan oleh sebagian besar orang Indonesia yang bertujuan mengamalkan islam. Kajian ini dilakukan di lingkungan mahasiswa muslim Indonesia yang belajar di beberapa universitas di Melboure. Di sana, mereka tidak bergabung pada kelompok pengajian manapun karena mereka menganggap satu-satunya tujuan dating ke australia adalah Belajar. Pengajian itu bersifat dialektika yang menyangkut topik-topik yang controversial atau mengandung aspek-aspek ilmiah.
Beberapa mahasiswa muslim Indonesia di Monash juga menghadiri pengajian yang diadakan Islam Study Group yang pada umumnya berbentuk tafsir Quran. Mereka juga aktif menghadiri pertemuan kelompok muslim yang dikenal dengan sebutan jama’ah tabligh.
     B.     Studi islam di Negara timur 
Studi islam sekarang ini berkembang hamper di seluruh Negara di dunia, baik di dunia timur maupun barat. Sebelu menjelaskan tentang sejarah perkembangan studi islam di dunia timur dirasa penting untuk menuliskan dua hal. Pertama menulis secara singkat prestasi umat manusai dalam bidang ilmu pengetahuan. Kedua, menulis sejumlah intelektual yang berperan dalam kemajuan lembaga pendidikan islam. Sejarah singkat prestasi umat manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dikemukakan misalnya oleh George Stanton sebagai berikut :
Euclides, archimides, dan seterusnya.
Kedua, tahun 600-700M disebut zaman cina dengan tokoh Hsin dan I ching .
Ketiga 750-1258, disebut jaman kejayaan muslim . selama 350 tahun pertama (750-1100M) kejayaan tersebut di dominasi dan secara mutlak dikuasai sarjana-sarjana muslim: jabir, al-razi, wafa, ibnu sina, dll.setelah itu muncul nama-nama non muslim.
Sementara beberapa pusat kegiatan intelektual pra islam diluar Arabia yang berperan besar memajukan pendidikan di dunia muslim digambarkan berikut. Bahwa kemajuan pengetahuan dalam islam tidak mungkin di pisahkan dari tradsi intelektual peradaban – paradapan terdahulu yang telah maju sebelum dan menjelang munculnya islam. Kalau dalam islam perkembangan ilmu pengetahuan mencapai abad ke2H atau 8M sampai abad k6H atau 12M. maka jauh sebelumnya bangsa yunani , india, cina, Tibet, mesir dan Persia telah mengembangkan tradisi keilmuannya sendiri-sendiri. Secara , peradapan islam adalah pewaris yang kemudian melakukan sintesis dan penyempurnaan atas pengetahuan dari peradaban-peradaban kuno tersebut. Berikut ini adalah beberapa kota yang merupakan pusat kegiatan inte;ektual sebelum dan menjelang datangnya islam, yang berperan sebagai jembatan dalam proses penyarapan ilmu pengetahuan oleh umat islam.5
     1.         Nizhamiyah di Baghdad
Perguruan tinggi Nizhamiyah di Baghdad ini berdiri pada tahun 445 H/1063 M.[5][3] Perguruan tinggi ini dilengkapi dengan perpustakaan yang terpandang kaya raya di baghdad, yakni Bait Al-Hikmah yang dibangun oleh Khalifah Al-Makmun (813-833 M), salah seorang ulama besar yang pernah  mengajar di sana, adalah ahli pikir islam terbesar, Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111 M), yang kemudian terkenal dengan sebutan Imam Ghazali.6
Di lembaga ini ada empat unsur pokok, yakni (1) seorang mudarris (guru besar) yang bertanggung jawab terhadap pengajaran di lembaga pendidikan, muqri’ (ahli Al-Qur’an) yang mengajar Al-Qur’an di masjid, muhaddis (ahli hadis) yang mengajar hadis lembaga pendidikan, dan seorang pustakawan (Bait Al-Maktub) yang bertanggung jawab terhadap perpustakaan, mengajar bahasa dan hal-hal yang terkait.
Perguruan tinggi tertua di Baghdad ini hanya sempat hidup hampir dua abad. Yang akhirnya hancur akibat penyerbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulaghu Khan pada tahun 1258 M.
      2.       Al-Azhar di Kairo Mesir
Panglima besar Juhari Al-Siqili pada tahun 362 H/972 M membangun Perguruan Tinggi Al-Azhar dengan kurikulum berdasarkan ajaran sekte Syiah. Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Hakim Biamrillah (966-1020), khalifah keenam dari Daulat Fathimiyah, ia pun membangun perpustakaan terbesar di Al-Qahirah untuk mendampingi Perguruan Tinggi Al-Azhar, yang diberi nama Bait Al-Hikmah (Balai ilmu pengetahuan), seperti nama perpustakaan terbesar di Baghdad.
Pada tahun 567 H/1171 M Daulat Fathimiyah di tumbangkan oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi yang mendirikan Daulat Ayyubiyah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk kembali kepada Daulat Abbasyiah di Baghdad. Kurikulum pada perguruan tinggi Al-Azhar lantas mengalami perombakan total, dari aliran Syi’ah  kepada aliran Sunni. Ternyata perguruan tinggi al-Azhar ini mampu hidup terus sampai sekarang, yakni sejak abad ke-10 M sampai abad ke-20 M dan  tampaknya akan tetap selama hidupnya.[6]
Universitas al-Azhar dapat dibedakan menjadi dua periode : pertama, periode sebelum tahun 1961 dan kedua, periode setelah 1961, dimana fakultas-fakultasnya sama seperti yang ada di IAIN sekarang, dan periode setelah tahun 1961, dimana fakultas-fakultas dan ilmu-ilmu yang dikaji telah meliputi seluruh cabang ilmu pengetahuan umum dan agama. Kalau peride pertama kita sebut periode Qadim (lama), dan kedua sebagai periode Jadid (baru), maka yang dicontoh IAIN selama ini ialah Al-Azhar periode Qadim.
     3.      Nisyapur
Perguruan tinggi nizhamiyah Naisyapur di bangun nizham almulk untuk aljuwayni, dan aljuwayni menjadi mudarris (guru besar) disini sampai 3 dekade, yang berakhir dengan wafatnya tahun 478/ 1083. Darisini dapat di hitung bahwa lembaga ini di bangun sekitar 440/ 1050 an. 
      4.        Perguruan Tinggi Cordova
Adapun sejarah singkat Cordova dapat digambarkan demikian, bahwa di tangan Daulat Ummayah, semenanjung Liberia yang berabad-abad sebelumnya terpandang daerah minus, berubah bagaikan disulap menjadi daerah yang makmur dan kaya raya akan pembangunan bendungan-bendungan irigasi  di sana sini menuruti contoh lembah Nil dan lembah Ephrate. Bahkan pada masa berikutnya, Cordova menjadi pusat ilmu dan kebudayaan yang gilang gemilang sepanjang zaman tengah. The Historians’ History of the World menulis tentang peri keadaan pada masa pemerintahan Amir Abdurrahman I (756-788 M) itu, sebagai berikut, demikian tulis buku sejarah terbesar tersebut tentang perikeadaan Andalusia waktu itu, yang merupakan pusat intelektual di eropa dan dikagumi kemakmurannya. Sejarah mencatat, sebagai contoh, bahwa Aelhoud dari Bath (Inggris) belajar ke Cordova pada tahun 1120 M, dan pelajaran yang dituntunnya adalah geometri, algebra (aljabar), matematik. Gerard dari Cremona belajar di Toledo seperti halnya Aelhoud ke Cordova. Begitu pula tokoh-tokohlainnya.[7]
5.  Kairawan Nizam al-Muluk di Maroko
Perguruan tinggi Kairwan ini berada di kota Fez (Afrika Barat). Perguruan tinggi ini bermula dibangun pada tahun 859 M oleh puteri seorang saudagar hartawan di kota Fez, yang berasal dari Kairawan (Tunisia). Pada tahun 305 H/918 M perguruan tinggi ini diserahkan kepada pemerintah dan sejak saat itu menjadi perguruan tinggi resmi, yang perluasan dan perkembangannya berada di bawah pengawasan dan pembiayaan negara.
Seperti halnya perguruan tinggi Al-Azhar, perguruan tinggi Kairawan masih tetap hidup sampai sekarang. Di antara sekian banyak alumninya adalah pejuang nasionalis muslim terkenal, diantaranya adalah Allal Al-Fasi, dan Mahdi Ben Barka, yang berhasil mencapai kemerdekaan Maroko dari penjajahan Perancis sehabis perang Dunia kedua, lalu pejabat PM Maroko di bawah Sultan Muhammad V. Sedangkan ilmuan termasyhur yang pernah menjadi maha gurunya antara lain Ibnu Thufail (1106-1185 M) dan Ibnu Rusyd (1126-1198 M), pada masa Daulat Almuwahhidin dari Eropa, maka nama Avenbacer (Abu bakar Ibnu Thufail) dan Averroes (Ibnu Rusyd) dan Avempas (Ibnu Bajah) dan Alhazem (Imnu Hazmi) dan lainnya, amat populer dan harum di Eropa.[8]
Sebagai catatan, perguruan tinggi Al-Azhar (972 M) di Mesir, dan perguruan tinggi Kairwan (859 M) di Maroko, adalah lebih tua dibandingkan dengan perguruan tinggi Oxford (1163 M) dan perguruan tinggi Cambridge (1209 M) di Inggris, dan perguruan tinggi Sorbonne (1253  M) di Perancis, perguruan tinggi Tubingen (1477 M) di Jerman, dan perguruan tinggi Edinburg (1582 M) di Skotlandia.[9]
Penyebab utama kemunduruan dunia muslim, khususnya di bidang ilmu pengetahuan adalah terpecahnya kekuatan politik yang digoyang oleh tentara bayaran Turki. Kemudian dalam kondisi demikian datang musuh dengan membawa bendera perang salib. Akhirnya, Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan ketika itu dihancurkan Hulaghu Khan tahun 1258 M. Pusat-pusat studi termasuk yang dihancurkan Hulaghu Khan.
Kemudian adapula sejumlah universitas baru yang juga menawarkan studi islam. Diantaranya adalah:
1.      American university in cairo di Mesir, department of Arabic studies – Islamic art narchitecture.
2.      An-najah national university di Palestina faculty of graduate studies
3.      Center for conservation of Islamic architecture heritage di Mesir
4.      Islamic institute for peace  and human development di Pakistan
5.      University of engineering and technology, Lahore di Pakistan, departemento humanities and social sciences
6.      Jamia millia islamia di India department of Islamic studies
7.      Selcuk university di Turki, history of art and architecture
8.      Shiraz university di iran, department of Islamic education
9.      University of allepo di syiria , faculty of arts and humanities
10.  University of Khartoum di sudan, department of Islamic studies.
     CSejarah Perkembangan Studi Islam di Indonesia
Perkembangan studi islam di Indonesia dapat di gambarkan demikian. Bahwa lembaga/sistem pendidikan Islam di Indonesia mulai dari sistem pendidikan:
 (1) langgar, kemudian sistem
(2) pesantren, kemudian berlanjut dengan sistem
 (3) pendidikan di kerajaan-kerajaan islam, akhirnya muncul sistem
 (4) kelas.
Maksud pendidikan sistem langgar adalah pendidikan yang dijalankan di langgar, atau masjid atau  di rumah guru. Kurikulumnya pun bersifat elementer, yakni mempelajari abjad huruf arab. Dengan sistem ini di kelola oleh alim, mudin, lebai.[10] Di tempat ini dilakukan pendidikan buat orang dewasa maupun anak-anak. Pengajian yang dilakukan untuk orang dewasa adalah penyampaian ajaran islam oleh mubaligh (al-ustadz, guru, kyai) kepada para jama’ah dalam bidang yang berkenaan dengan akidah, ibadah dan akhlak.[11]
Sedangkan pengajian yang dilaksanakan ialah anak-anak berpusat kepada pengajian Al-Qur’an menitikberatkan kepada kemampuan membacanya dengan baik sesuai dengan kaidah-kaidah bacaan. Selain dari itu anak-anak juga diberi pendidikan keimanan ibadah dan akhlak. Keimanan bertumpu kepada rukun iman yang enam sedangkan ibadah dititikberatkan kepada pendidikan shalat. Adapun akhlak ditujukan kepada pembentukan akhlak yang mulia, dalam tingkah laku kesehariannya. [12]
Pengajaran sistem langgar dilakukan dengan dua cara. pertama, dengan cara sorogan, yakni seorang murid berhadapan langsung dengan guru, dan bersifat perorangan. Kedua, adalah dengan cara halaqah, yakni guru dikelilingi oleh para murid untuk belajar bersama.
Adapun sistem pendidikan di pesantren atau dapat diidentikkan dengan huttab, dimana seorang kyai mengajari santri dengan sarana masjid sebagai tempat pengajaran/pendidikan, dan didukung oleh pondok sebagai tempat tinggal santri. [13]
Di pesantren juga berjalan dua cara, yakni (1) sorogan dan (2) halaqah. Hanya saja sorogan di pesantren biasanya dengan cara si santri yang membaca kitab, sementara kyai mendengarkan, sekaligus mengoreksi kalau ada kesalahan.[14]
Inti dari pesantren itu adalah pendidikan ilmu agama, dan sikap beragama. Kerenanya mata pelajaran yang diajarkan semata-mata pelajaran agama. Pada tingkat dasar anak didik baru diperkenalkan tentang dasar agama, dan Al-Qur’an. Setelah berlangsung beberapa lama pada saat anak didik telah memiliki kecerdasan tertentu, maka mulailah diajarkan kitab-kitab klasik. Kitab-kitab klasik ini juga diklasifikasikan kepada tingkat dasar, menengah dan tinggi.[15]
Sistem pengajaran berikutnya adalah pendidikan di kerajaan-kerajaan islam. Berikut adalah nama-nama kerajaan yang dulu pernah berperan dalam perkembangan studi islam di Indonesia : (1) Kerajaan Samudra Pasai di Aceh (2) Kerajaan Perlak di Selat Malaka (3) Kerajaan Aceh Darussalam (4) Kerajaan Demak (5) Kerajaan Islam Mataram (6) Kerajaan Islam di Banjarmasin.
Kemudian mulai akhir abad ke-19, perkembangan pendidikan islam di Indonesia, mulai lahir sekolah model Belanda, sekolah Eropa, sekolah Vernahuler khusus bagi warga Negara Belanda. Di samping itu ada sekolah pribumi yang mempunyai system yang sama dengan sekolah-sekolah Belanda tersebut, seperti sekolah taman siswa. [16]
Kemudian abad ke-20 muncul madrasah dan sekolah-sekolah model Belanda oleh organisasi islam seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Jama’ah Al-Khoir, dan lain sebagainya.
Kemudian pada tahun 1916 M, Nahdatul Ulama membuka madrasah Salafiyah di Tebuireng, yang dalam kurikulumnya memasukkan pelajaran baca tulis huruf latin. Pada tahun 1923 ada empat sekolah Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta, dan di Jakarta berdiri sekolah HIS (Hollands Inland School).[17]
Pada level perguruan tinggi dapat digambarkan bahwa berdirinya perguruan tinggi islam tidak dapat di lepaskan dari adanya keinginan umat islam Indonesia untuk memiliki lembaga pendidikan tinggi islam sejak zaman kolonial. Pada bulan April 1945 diadakan pertemuan antara berbagai tokoh organisasi islam, ulama, dan cendikiawan. Dalam pertemuan itu dibentuklah panitia perencana sekolah tinggi islam yang diketuai oleh Drs. Moh. Hatta dengan anggota-anggota antara lain : K.H. Mas Mansur, K.H.A. Muzakkir, K.H. R.F. Kafrawi dan lain-lain. Setelah persiapan cukup, pada tanggal 8 Juli 1985 M atau 27 Rajab 1264 H, bertepatan dengan hari Isra’ dan Mi’raj diadakan upacara pembukaan resmi Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta.[18]
            Setelah proklamasi dan ibu kota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta, STI juga hijrah ke kota tersebut dan berubah namannya menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Fakultas agama UII ini kemudian di negerikan dan menjelma menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN). PTAIN membuka tiga jurusan, yaitu Jurusan Qadla, Tarbiyah dan Dakwah.[19]
 Pada tahun 1960 PTAIN dilebur dan digabungankan dengan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) milik  Departemen Agama yang didirikan di Jakarta. Dengan penetapan menteri agama No.1 tahun 1957. Pada tanggal 2 Rabi’ul Awal 1380 H, bertepatan dengan tanggal 28 Agustus 1960 M berdirilah secara resmi  IAIN  Al-Islamiyah Al-Hukumiyah. IAIN tersebut merupakan penggabungan antara PTAIN di Yogyakarta dan ADIA di Jakarta.
Melihat perkembangan IAIN yang pesat di tandai dengan banyaknya berdiri fakultas-fakultas di cabang di daerah-daerah menunjukan besarnya minat masuk IAIN. Kondisi ini melatarbelakangi lahirnya PP No 27 Tahun 1963, yang memungkinkan di dirikannya IAIN yang terpisah dari pusatnya. Dari sisi waktu berdirinya IAIN dapat di gambarkan berikut:
1.      IAIN Ar- raniry  Banda Aceh tanggal 5 oktober 1963
2.      IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tTanggal 5 desember 1963
3.      IAIN Raden Fatah Palembang Tanggal 22 oktober 1964
4.      IAIN Antasari Kalimantan Selatan Tanggal 22 november 1964
5.      IAIN Sunan Ampel Surabaya Tanggal 6 juli 1965
6.      IAIN Alauddin Ujung di Padang Tanggal 28 oktober 1965
7.      IAIN Imam Bonjol Padang Tanggal 21 november 1966
8.      IAIN Sultan Taha saefuddin Jambi Tahun 1967

   

IV.             PENUTUP
         Demikian makalah yang dapat kami susun, kami sangat menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan.Untuk itu kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan pengembangan sangat kami harapkan. Semoga dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi kita semua.Amin. 



DAFTAR PUSTAKA

Anmwar Rosihan,dkk. Pengantar Studi Islam. Bandung: Pustaka Setia.2011
Darmawan Andi, M.Ag dkk, Pengantar Studi Islam, Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2005
Nasution Khoiruddin, MA, Pengantar Studi Islam, ACAdeMIA+TAZZAFA Yogyakarta,



BIODATA PENULIS

1.  Nama                : Adi Setyo Nugroho
NIM                  : 123911022
Prodi                : PGMI
TTL                  : Semarang, 28 Mei 1994
Alamat             : Jl. Pucang indah 4/26 perumnas pucang gading, batusari, mranggen, kab. Demak
Pendidikan      
SD                    : SDN Batu Sari 3
SMP                 : SMP N 3
SMA                 : SMA Muhammadiyah 1
No. Telepon     : 085640382775
Email                : Adi_rocketboy@yahoo.com

2.  Nama                : Agus Santoso
NIM                  : 123911026
Prodi                : PGMI
TTL                  : Batang, 7 Maret 1994
Alamat             :  Ngebong RT02/RW04 Tersono Batang
Pendidikan
SD                    :  MIS Tanjung Sari
SMP                 : MTs Nurussalam Tersono
SMA                 : SMA Wahid Hasyim Tersono
No.telepon        :085870135778
Email                : theboys.santoso@gmail.com

3.     Nama                :Alfi Hidayah
NIM                  : 123911030
Prodi                : PGMI
TTL                  : Brebes, 19 Juli 1994   
Alamat             : Kendawa RT02/RW02  Jatibarang Brebes
Pendidikan
SD                    : SDN Kendawa 02
SMP                 : MTs N Model Babakan
SMA                 : MAN Babakan
No. Telepon     :  085742257522
Email                :  Alfi.hidayah89@yahoo.com

4.  Nama                : Aprilia Ngabekti Ningsih
NIM                  : 123911037
Prodi                : PGMI
TTL                  : Semarang, 8 April 1993
Alamat             : Jambon Podorejo RT 01 / RW08 Ngaliyan Semarang
Pendidikan
SD                    : MI Miftahusshibyan Ngadirgo Mijen Semarang
SMP                 : SMP Filial 1 N 23
SMA                 : SMA N 16
No. Telepon     : 085640815174
Email                :angabekti@yahoo.co.id

5.  Nama                :  Azimatus Syarifah
NIM                  : 123911039 
Prodi                : PGMI
TTL                  : Batang, 27-01-1994
Alamat             : Babadan-Limpung-Batang
Pendidikan
SD                    :
SMP                  :
SMA                 :
No. Telepon     : 085642975827
Email                : sofy.cute76@yahoo.com



[1] Rosihan anmwar,dkk. Pengantar Studi Islam. (Bandung: Pustaka Setia.2011). hlm. 44.
[2] Ibid
[3]  Ibid hlm.46
[4] Ibid.
5 Khoiruddin Nasution, MA, Pengantar Studi Islam, ACAdeMIA+TAZZAFA Yogyakarta, hlm.65-66
6 Andi darmawan, M.Ag dkk, Pengantar Studi Islam, (Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2005), hlm. 37


[7] . Khoiruddin Nasution, Op.Cit. , hlm. 80
[8] Ibid, hlm. 81
[9] Ibid, hlm. 82
[10] Prof. Dr. H. Khoiruddin Nasution, MA, Op.Cit. ,hlm. 113
[11]] Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, MA, Sejarah Pertumbuhan Dan Pembaruan Pendidikan Islam Di Indonesia, hlm. 21
[12] Ibid
[13] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Lintas Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1995), hlm. 21-22
[14] Ibid, hlm. 26
[15] Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, MA, Op.Cit. ,hlm. 22
[16] Khozin, Op.Cit. ,hlm. 58-59
[17] Ibid, hlm. 77
[18] Prof. Dr. H. Khoiruddin Nasution, MA, Op.Cit. ,hlm. 117
[19] Ibid, hlm. 118

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar